SBY dan Partai Demokrat dalam iklan kampanyenya di media massa menyatakan bahwa angka kemiskinan dan jumlah pengangguran saat ini semakin berkurang dibanding tahun-tahun lalu. Karena ini iklan untuk menghadapi Pemilu tahun depan, tentu saja yang dimaksudkan SBY adalah sejak pemerintahannya rakyat Indonesia jauh lebih sejahtera dibanding dengan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.
Bagi saya pribadi sulit rasnya menerima kebenaran pernyataan tersebut. Karena dalam faktanya yang terjadi justru sebaliknya. Bagaimana mungkin seorang presiden membuat penyataan demikian di tengah krisis ekonomi global yang tengah berlangsung dan negara kita merasakan sekali dampak buruknya.
Saat ini sangat mudah sekali menemukan masyarakat miskin dan melarat. Demikian juga dengan orang-orang yang menganggur, rasanya jumlahnya kok kian bertambah. Entah apa indikator yang digunakan pemerintah untuk mengatakan bahwa kita kini makin sejahtera.
Sekarang, nilai rupiah terus meluncur nyaris mencapai angka Rp. 13.000 per dolarnya. Mungkin hanya, menunggu waktu saja angka ini terus bertambah bertambah menjadi Rp. 15.000/dolar(US$).
Sementara pemerintah tidak banyak berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Angka ini tentu saja angka tertinggi sejak kita memasuki era reformasi. Sementara daya beli masyarakat semkin anjlok. Apalagi sejak SBY menaikkan BBM dua kali selama pemerintahannya telah ikut menambah jumlah orang miskin.
Terakhir ketika BBM naik, pemerintah memberi alasan karena harga minyak di pasar internasional melambung. Sekarang ketika harga minyak turun menjadi hanya US$ 60, pemerintah tidak juga menurunkan BBM. Padahal Malaysia saja sudah menurunkan harga minyak dalam negerinya sampai enam kali. Tentu saja ini bentuk penipuan pemerintah terhadap rakyatnya. Entahlah...
Bagi saya pribadi sulit rasnya menerima kebenaran pernyataan tersebut. Karena dalam faktanya yang terjadi justru sebaliknya. Bagaimana mungkin seorang presiden membuat penyataan demikian di tengah krisis ekonomi global yang tengah berlangsung dan negara kita merasakan sekali dampak buruknya.
Saat ini sangat mudah sekali menemukan masyarakat miskin dan melarat. Demikian juga dengan orang-orang yang menganggur, rasanya jumlahnya kok kian bertambah. Entah apa indikator yang digunakan pemerintah untuk mengatakan bahwa kita kini makin sejahtera.
Sekarang, nilai rupiah terus meluncur nyaris mencapai angka Rp. 13.000 per dolarnya. Mungkin hanya, menunggu waktu saja angka ini terus bertambah bertambah menjadi Rp. 15.000/dolar(US$).
Sementara pemerintah tidak banyak berbuat apa-apa untuk menghentikannya. Angka ini tentu saja angka tertinggi sejak kita memasuki era reformasi. Sementara daya beli masyarakat semkin anjlok. Apalagi sejak SBY menaikkan BBM dua kali selama pemerintahannya telah ikut menambah jumlah orang miskin.
Terakhir ketika BBM naik, pemerintah memberi alasan karena harga minyak di pasar internasional melambung. Sekarang ketika harga minyak turun menjadi hanya US$ 60, pemerintah tidak juga menurunkan BBM. Padahal Malaysia saja sudah menurunkan harga minyak dalam negerinya sampai enam kali. Tentu saja ini bentuk penipuan pemerintah terhadap rakyatnya. Entahlah...